lanjutan dari: http://prasetiamaulanamalik.blogspot.co.id/2016/09/pengertian-massa-air-dan-karakteristik.html
SUHU
Definisi Suhu
Definisi Suhu
Suhu merupakan salah satu faktor yang penting dalam kelangsungan
hidup organisme baik di perairan maupun di darat, dimana suhu mempengaruhi
aktivitas metabolisme dan
juga perkembangbiakan dari suatu organisme, suhu juga merupakan salah
satu faktor yang menyebabakan persebaran organisme di dunia, dikarenakan
setiap organisme memiliki kebutuhan dan ketahan terhadap suhu yang berbeda
beda. Pada dasarnya didarat maupun diperairan dipanasi oleh sinar matahari
melalui prosesisolasi, tetapi terdapat pemanasan yang tidak merata di tiap
daerah (Hutabaratdan Evans, 2000)
Laut tropik memiliki massa air permukaan
hangat yang disebabkan oleh adanya pemanasan yang terjadi secara terus-menerus
sepanjang tahun. Pemanasan tersebut mengakibatkan terbentuknya stratifikasi di
dalam kolom perairan yang disebabkan oleh adanya gradien suhu. Berdasarkan
gradien suhu secara vertikal di dalam kolom perairan, Wyrtki (1961) membagi
perairan menjadi 3 (tiga) lapisan, yaitu: a) lapisan homogen pada permukaan
perairan atau disebut juga lapisan permukaan tercampur; b) lapisan
diskontinuitas atau biasa disebut lapisan termoklin; c) lapisan di bawah
termoklin dengan kondisi yang hampir homogen, dimana suhu berkurang secara
perlahan-lahan ke arah dasar perairan.
Menurut Lukas and Lindstrom (1991),
kedalaman setiap lapisan di dalam kolom perairan dapat diketahui dengan melihat
perubahan gradien suhu dari permukaan sampai lapisan dalam. Lapisan permukaan
tercampur merupakan lapisan dengan gradien suhu tidak lebih dari 0,03 oC/m
(Wyrtki, 1961), sedangkan kedalaman lapisan termoklin dalam suatu perairan
didefinisikan sebagai suatu kedalaman atau posisi dimana gradien suhu lebih
dari 0,1 oC/m (Ross, 1970).
Suhu permukaan laut tergantung pada
beberapa faktor, seperti presipitasi, evaporasi, kecepatan angin, intensitas
cahaya matahari, dan faktor-faktor fisika yang terjadi di dalam kolom perairan.
Presipitasi terjadi di laut melalui curah hujan yang dapat menurunkan suhu
permukaan laut, sedangkan evaporasi dapat meningkatkan suhu permukaan akibat
adanya aliran bahang dari udara ke lapisan permukaan perairan. Menurut McPhaden
and Hayes (1991), evaporasi dapat meningkatkan suhu kira-kira sebesar 0,1 oC
pada lapisan permukaan hingga kedalaman 10 m dan hanya kira-kira 0,12 oC pada
kedalaman 10 – 75 m. Disamping itu Lukas and Lindstrom (1991) mengatakan bahwa
perubahan suhu permukaan laut sangat tergantung pada termodinamika di lapisan
permukaan tercampur. Daya gerak berupa adveksi vertikal, turbulensi, aliran
buoyancy, dan entrainment dapat mengakibatkan terjadinya perubahan pada lapisan
tercampur serta kandungan bahangnya. Menurut McPhaden and Hayes (1991), adveksi
vertikal dan entrainment dapat mengakibatkan perubahan terhadap kandungan
bahang dan suhu pada lapisan permukaan. Kedua faktor tersebut bila dikombinasi
dengan faktor angin yang bekerja pada suatu periode tertentu dapat
mengakibatkan terjadinya upwelling. Upwelling menyebabkan suhu lapisan
permukaan tercampur menjadi lebih rendah. Pada umumnya pergerakan massa air disebabkan
oleh angin. Angin yang berhembus dengan kencang dapat mengakibatkan terjadinya
percampuran massa air pada lapisan atas yang mengakibatkan sebaran suhu menjadi
homogen.
Alat
yang digunakan untuk mengukur suhu yaitu thermometer. Thermometer adalah alat untuk mengukur suhu, baik suhu udara
maupun suhu air. Satuan umum yang digunakan adalah celcius. Cara
penggunaanya: thermometer bekerja berdasarkan perubahan
kuantitas fisik, ketika temperaturnya berubah. Jadi bisa berdasarkan pemuaian (thermometer air
raksa), perubahan resistivitas, perubahan kuantitas listrik (termokopel),
radiasi bahan (thermometer temperature tinggi) (Saputra, 2014).
Faktor-faktor yang mempenagruhi suhu permukaan air laut dan suhu
udara ialah keseimbangnan kalor dan keseimbangan masa air di lapisan permukaan
laut. Faktor meteorologi yang mengatur keseimbangan ialah curah hujan,
penguapan, kelembaban, suhu udara, kecepatan angin, penyinaran matahari dan
suhu permukaan laut itu sendiri. Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi
suhu dan salinitas di perairan ini adalah penyerapan panas (heat flux),
curah hujan (presipitation), aliran sungai (flux) dan pola
sirkulasi arus (Hadikusumah, 2008).
Pengertian
Suhu udara (temperatur)
Suhu
udara (temperatur) adalah/ Suhu udara (temperatur) yaitu/ Suhu udara
(temperatur) merupakan/ yang dimaksud Suhu udara (temperatur)/ arti Suhu udara
(temperatur)/ definisi Suhu udara (temperatur).
Suhu udara (temperatur) adalah keadaan udara pada waktu dan tempat tertentu. Suhu dipengaruhi oleh beberapa hal berikut ini:
1. Penyinaran matahari, meliputi jarak dan lamanya penyinaran, serta besar kecilnya sudut datangmatahari. Semakin besar intensitas penyinaran matahari, semakin tinggi temperatur udaranya.
2. Tinggi rendahnya permukaan daratan. Semakin tinggi suatu tempat di daratan dari permukaan air laut, semakin rendah temperatur udaranya.
Suhu udara di suatu tempat dapat diketahui dengan menggunakan sebuah alat ukur, yaitu termometer. Naik turunnya temperatur udara dapat dilihat pada angka yang tertera pada tabung kaca termometer. Satuan derajat untuk temperatur udara antara lain Celcius (C), Fahrenheit (F), dan Reamur (R). hasil pengukuran suhu udara diberbagai tempat dapat dipetakan. Garais-garis pada peta yang menghubungkan daerah yang memiliki suhu udara sama disebut isoterm.
1.
Mengapa pada daerah kutub air
membeku pada permukaan sedangkan pada kedalaman air tidak membeku. Padahal
seharusnya suhu di kedalaman lebih rendah dari permukaan ?
–
Saat air menjadi es, air menyusut namun massa air tetap sedangkan
volumenya berkurang, sehingga massa jenis air akan bertambah.. Semakin menuju
ke 0 derajat celsius, semakin kecil masa jenis air. Inilah salah satu jawaban,
kenapa es mengapung di air. Karena butiran es banyak mengandung hidro karbon
yang memiliki berat jenis massa lebih ringan daripada air(H2O). Jadi es
mengapung di air kerena massa jenis es lebih kecil dari massa jenis air.
Menurut teori Archimedes yang mengatakan bahwa zat yang memiliki massa
jenis lebih kecil dari air akan mengapung di air, zat yang memiliki massa jenis
sama dengan massa jenis air akan melayang dan zat yang memiliki massa jenis
lebih besar dari air akan tenggelam.
–
Air biasa mengalami anomali sehingga berat jenis air terkecil bukan pada suhu
nol, melainkan pada suhu 4 der C. Akibat anomali air lapisan es pasti berada
dipermukaan air (karena lebih ringan dari yang suhunya dibawah 4 der C), ini
sangat bermanfaat untuk mengisolasi air dari suhu udara (diatasnya) sehingga
dibawah permukaan es masih terdapat air dalam keadaan cair. Semakin lama
lapisan es semakin tebal, tetapi dibawahnya masih terdapat air dalam keadaan
cair yang sangat dibutuhkan oleh makluk hidup.
–
Air di bawah permukaan tidak dapat membeku karena adanya panas bumi
sehingga suhu di dasar laut belum tentu lebih rendah dari permukaan air laut.
Pada
permukaan salinitas dapat dikatakan cukup tinggi karena pada permukaan air
terjadi pengupan baik, atau perbedaan temperatur antara air dan udara (
temperatur air lebih tinggi dari temperatur udara), juga bisa karena kelembapan
udara kecil.
Karena
semakin dalam temperatur semakin rendah maka salinitas mulai turun seperti
terlihat pada grafik sampai kedalaman 1 km dan biasanya pada kedalaman itu
salinitas paling rendah. Namun
pada kedalaman 1 km sampai dasar laut salinitas meningkat drastis sampai
sekitar 34,5 karena tidak ada turbulensi lagi
.
–
Temperatur akan semakin menurun jika kedalaman semakin bertambah bertambah
–
Pada lapisan thermocline (200 m – 1000 m) selalu terjadi penurunan atau
kenaikan yg drastis
–
Holocline adalah kemerosotan dibabkan penurunan salinitas dalam badan air.
Salinitas
pada kedalaman umumnya semakin tinggi karena di dasar laut terjadi
pengendapan zat-zat yang jatuh dari permukaan atau sisa-sisa organisme laut.
–
Pycnocline adalah kemerosotan disebabkan oleh kuat vertikal kepadatan dalam
badan air. Kepadatan atau tekanan di dalam air semakin besar saat kedalaman
semakin tinggi.
4. Menentukan temperatur
air laut?
Dalam oseanografi dikenal dua istilah untuk menentukan temperatur air laut yaitu temperatur insitu (selanjutnya disebut sebagai temperatur saja) dan temperatur potensial. Temperatur adalah sifat termodinamis cairan karena aktivitas molekul dan atom di dalam cairan tersebut. Semakin besar aktivitas (energi), semakin tinggi pula temperaturnya. Temperatur menunjukkan kandungan energi panas. Energi panas dan temperatur dihubungkan oleh energi panas spesifik. Energi panas spesifik sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur dari satu satuan massa fluida sebesar 1o. Jika kandungan energi panas nol (tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam fluida) maka temperaturnya secara absolut juga nol (dalam skala Kelvin). Jadi nol dalam skala Kelvin adalah suatu kondisi dimana sama sekali tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam suatu fluida. Temperatur air laut di permukaan ditentukan oleh adanya pemanasan (heating) di daerah tropis dan pendinginan (cooling) di daerah lintang tinggi. Kisaran harga temperatur di laut adalah -2o s.d. 35oC (Rahmad, 1992).
5. Pada suhu berapakah terumbu karang bisa tumbuh
dan pada kedalaman berapa? Apa pengaruhnya
jika bukan batas normal?
Terumbu karang sebagian besar terdapat di perairan tropis, sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan hidupnya terutama Suhu, Salinitas, Sedimentasi, Eutrofikasi dan memerlukan kualitas perairan alami (pristine).Demikian halnya dengan perubahan suhu lingkungan akibat pemanasan global yang melanda perairan tropis di tahun 1998 telah menyebabkan pemutihan karang (coral bleaching) yang diikuti dengan kematian massal mencapai 90-95%. Selama peristiwa pemutihan tersebut, rata-rata suhu permukaan air di perairan Indonesia adalah 2-3 °C di atas suhu normal.
Terumbu karang dapat tumbuh dengan baik di perairan laut dengan suhu 21° – 29° C. Masih dapat tumbuh pada suhu diatas dan dibawah kisaran suhu tersebut, tetapi pertumbuhannya akan sangat lambat. Karena itulah terumbu karang banyak ditemukan di perairan tropis seperti Indonesia dan juga di daerah sub tropis yang dilewari aliran arus hangat dari daerah tropis seperti Florida, Amerika Serikat dan bagian selatan Jepang.
Karang membutuhkan perairan dangkal dan bersih yang dapat ditembus cahaya matahari yang digunakan oleh zooxanthellae untuk berfotosintesis. Pertumbuhan karang pembentuk terumbu pada kedalaman 18 – 29 m sangat lambat tetapi masih ditemukan hingga kedalaman iebih dari 90 m.
Daftar Pustaka
·
H. Robert, Introduction to Physical
Oceanography, 2005, p.52




